![]() |
| Kerajaan Gowa Tallo | Foto : Ruqyah Cirebon |
Bahkan pada masa kepemimpinan Sultan Hasanuddin, kerajaan ini menjadi pusat perdagangan terbesar di Indonesia Timur. Hingga saat ini, terdapat berbagai peninggalan Sejarah Kerajaan Gowa Tallo yang menarik untuk diketahui. Bahkan masyarakat bisa mengunjungi tempat-tempat tersebut untuk belajar dan mengenang kerajaan Makassar. Lantas, apa saja peninggalan sejarah Kerajaan Gowa Tallo? Berikut penjelasan lengkapnya.
Sejarah Kerajaan Gowa Tallo
Kerajaan Gowa Tallo merupakan kerajaan Islam yang telah ada di Sulawesi Selatan sejak abad ke-14 dan berpusat di Makassar. Jalan yang berada di kerajaan ini menjadi salah satu pusat perdagangan dan pelayaran nusantara. Pada mulanya Gowa dan Tallo merupakan dua kerajaan yang terpisah, namun akhirnya bersatu pada abad ke-17.
Saat itu mereka membutuhkan pemimpin di luar komunitasnya yang mampu bertindak adil dan mempersatukan mereka. Mereka bertemu dengan Tumanurung Bainea yang diangkat menjadi raja pertama Kerajaan Gowa. Seperti yang telah ditulis sebelumnya, kerajaan ini merupakan dua kerajaan yang berbeda.
Pada masa pemerintahan Tonatangka Lopi, Raja Gowa ke-6, ia membagi kekuasaan di antara kedua putranya. Kerajaan Gowa dipimpin oleh Batar Gowa, sedangkan putra keduanya Karaeng Loe ri Sero diberi kekuasaan di suatu daerah untuk membangun Kerajaan Tallo.
Kedua kerajaan tersebut rupanya sering mengalami konflik, hingga suatu saat kedua kerajaan berhasil dipersatukan oleh Daeng Matanre Karaeng Tumparisi Kallona. Dan terbentuklah Kerajaan Gowa Tallo. Sebelum masuknya Islam, masyarakat di wilayah Gowa menganut paham animisme.
Kemudian di bawah pimpinan Raja I Mangaru Daeng Manrabbia atau Sultan Alauddin I (Raja Gowa pertama yang memeluk Islam), Gowa Tallo menjadi pemerintahan Islam sehingga satu persatu masyarakatnya memeluk Islam.
Sejak saat itu, Kerajaan Gowa berubah menjadi Kesultanan dan menjadi pusat dakwah Islam di wilayah Sulawesi Selatan dan Indonesia Timur. Jika Aceh adalah Serambi Mekkah, maka kesultanan ini disebut juga Serambi Madinah.
Kehidupan Masyarakat Kerajaan Gowa Tallo
Kehidupan Politik
Sebelum berubah menjadi kesultanan, kerajaan ini sering berperang dengan beberapa daerah lain di Sulawesi Selatan, antara lain: Bone, Wajo, Soppeng dan Luwu hingga akhirnya Wajo dan Luwu berhasil ditaklukkan dan menjadi bawahan Gowa. Memasuki era pemerintahan Islam, kerajaan ini turut menyebarkan agama Islam di wilayah Sulawesi Selatan, termasuk Bone dan Wajo.
Kehidupan Ekonomi
Menjadi kerajaan dengan letak strategis dan jalur perdagangan, kehidupan perekonomian masyarakat Gowa tidak perlu diragukan lagi. Daerah ini kaya akan nasi putih dan berbagai bahan makanan. Gowa juga mendapat banyak manfaat dari Pelabuhan Somba Opu yang menjadi pusat aliran rempah-rempah dari Maluku ke wilayah barat.
Kehidupan Sosial
Kehidupan sosial masyarakat Gowa ini sangat mengutamakan agama Islam. Islam telah menjadi fokus utama dalam ibadah mereka. Bahkan ajaran sufi berkembang di Gowa berkat Syekh Yusuf al-Makasari.
Peninggalan Kerajaan Gowa Tallo
Balla Lompoa
Balla Lompoa atau yang berarti 'rumah besar' adalah istana yang dulunya merupakan kediaman Raja Gowa. Istana ini dibangun pada tahun 1936 setelah diangkatnya Raja Gowa XXXV I Mangimangi Daeng Matutu, Karaeng Bontonompo yang bergelar Sultan Muhammad Tahir Muhibuddin. Selain sebagai kediaman Raja Gowa, Balla Lompoa juga berfungsi sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Gowa.
Balla Lompoa terletak di Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa. Peninggalan sejarah Kerajaan Gowa-Tallo ini kini difungsikan sebagai Museum Balla Lompoa yang menyimpan koleksi benda-benda kerajaan.
Benteng Somba Opu
Bangunan yang dulunya merupakan benteng kerajaan ini dibangun oleh Sultan Gowa ke-9, Daeng Matanre Karaeng Tumapa'risi Kallonna, pada tahun 1525. Pembangunan benteng ini diatasi oleh Raja Gowa ke-12. Benteng ini ramai dikunjungi pedagang asing dari Asia dan Eropa pada pertengahan abad ke-16. Pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin, benteng ini digunakan sebagai pusat pemerintahan.
Benteng Somba Opu kini difungsikan sebagai objek wisata sejarah. Di kawasan Benteng Somba Opu terdapat beberapa rumah adat Sulawesi Selatan. Saat berkunjung ke tempat ini, pengunjung bisa melihat salah satu benda bersejarah yaitu meriam sepanjang 9 meter dengan berat mencapai 9.500 kilogram. Di kawasan ini juga terdapat bangunan yang merupakan museum yang berisi benda-benda bersejarah dari Kerajaan Gowa.
Benteng Rotterdam
Peninggalan sejarah Kerajaan Gowa-Tallo selanjutnya adalah Benteng Rotterdam. Dalam sejarah Kerajaan Makassar, benteng ini awalnya bernama Benteng Jumpandang. Benteng Rotterdam dibangun oleh Raja Gowa X bernama I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung pada tahun 1545. Kini, gedung ini difungsikan sebagai destinasi wisata sejarah dan museum yang menyimpan sejumlah benda bersejarah.
Masjid Tua Katangka
Masjid ini dibangun pada tahun 1603 pada masa pemerintahan Raja Gowa XIV (Sultan Alauddin I). Nama Syufi tersebut adalah Syekh Yusuf Al Makkasari yang merupakan kerabat Raja Gowa. Bangunan bersejarah peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo ini terdaftar sebagai Cagar Budaya Nasional.
Demikian ulasan artikel tentang Peninggalan Sejarah Kerajaan Gowa Tallo seperti yang dilansir slot gacor. Semoga bermanfaat.
