![]() |
| Balla Lompoa | Foto : Ruqyah Cirebon |
Meski kerajaan ini sudah tidak ada lagi, masyarakat negara tersebut masih bisa melihat peninggalannya hingga saat ini. Nah pada kesempatan kali ini kami akan memberikan informasi mengenai beberapa Peninggalan Kerajaan Gowa Tallo.
Peninggalan Kerajaan Gowa Tallo
Ford Rotterdam
Salah satu peninggalan sejarah kerajaan Gowa-Tallo yang cukup mengesankan adalah Ford Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang. Ford Rotterdam merupakan benteng yang dibangun oleh I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung, Raja Gowa ke-9 pada tahun 1545. Benteng Rotterdam sendiri terletak di pesisir barat Makassar.
Dahulu benteng yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan nama Benteng Panyyua ini berfungsi sebagai markas para pasukan katak Kerajaan Gowa. Nama Panyyua ini diambil dari bentuk bentengnya yang mirip dengan penyu.
Balla Lompoa
Balla Lompoa atau rumah besar merupakan istana tempat tinggal sultan Gowa. Istana yang berdiri di atas lahan sekitar 3 hektar ini merupakan salah satu peninggalan kerajaan Gowa-Tallo yang masih berdiri hingga saat ini. Balla Lompoa dibangun setelah pengangkatan Raja Gowa XXXV yang bergelar Sultan Muhammad Tahir Muhibuddin pada tahun 1936. Balla Lompoa terletak di Jalan Sultan Hasanuddin No 48, Provinsi Sulawesi Selatan.
Masjid Katangka
Peninggalan kerajaan Gowa-Tallo selanjutnya adalah Masjid Katangka yang nama aslinya adalah Masjid Al-Hilal. Masjid Katangka merupakan masjid tertua di Provinsi Sulawesi Selatan, tepatnya di Desa Katangka, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa.
Masjid yang pernah digunakan Kesultanan Gowa sebagai benteng pertahanan melawan penjajah ini memiliki desain unik yang memadukan budaya Jawa-Eropa-Cina. Berdasarkan prasasti, masjid yang berdiri di atas tanah setinggi 150 meter ini dibangun pada tahun 1603. Namun tak sedikit juga peneliti yang menyebutkan bahwa bangunan bersejarah ini dibangun pada awal abad ke-18.
Kompleks Makam Katangka
Kompleks Makam Katangka merupakan tempat pemakaman raja kesultanan Gowa. Di makam ini diketahui terdapat 71 makam kuno dengan 112 nisan yang terdiri dari 76 nisan datar, 31 nisan berbentuk silinder, dan 4 nisan balok polos. Nama Katangka sendiri diambil dari bahasa Makassar Tangkasa atau berarti desa suci.
Masjid Jami Nurul Mu'minin
Masjid Nurul Mukminin merupakan sebuah masjid kuno yang terletak di Kecamatan Panakkukang, Jalan Urip Sumoharjo, Kota Makassar. Dahulu orang menyebut masjid ini Karuwisi. Masjid ini dibangun pada tahun 1924 oleh pemilik masjid bernama H. Kawari. Awalnya, masjid yang dirancang oleh H. Andi Ring Karaeng Lengkese ini digunakan untuk kegiatan ibadah keluarga. Namun sejak tahun 1995 Masjid Nurul Mukminin menjadi milik masyarakat umum di sekitar masjid.
Masjid Jongaya
Nah, salah satu masjid tertua yang merupakan peninggalan kerajaan Gowa-Tallo adalah Masjid Jongaya atau Babul Firdaus. Masjid yang dibangun pada tahun 1893 M di Sulawesi Selatan ini terletak di Jalan Kumala, Kelurahan Jongaya, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar.
Babul Firdaus merupakan masjid ketiga yang dibangun oleh Kesultanan Gowa. Dahulu Masjid Babul Firdaus digunakan sebagai tempat memperdalam ilmu agama dan juga digunakan sebagai tempat pertemuan para raja guna menyusun strategi menghadapi penjajah Belanda.
Makam Syekh Yusuf Tajul Khalwati
Peninggalan lain yang bisa kita lihat adalah santapan Syekh Yusuf Tajul Khalwati. Selain pernah berjuang mempertahankan tanah air dari penjajah Belanda, Syekh Yusuf Tajul Khalwati merupakan tokoh ulama yang berjasa menyebarkan Islam di Kerajaan Gowa. Shekh Yusuf diketahui meninggal pada tanggal 23 Mei 1699 di sebuah daerah bernama Kaap di Afrika Selatan. Kini makam Syekh Yusuf menjadi salah satu situs cagar budaya di Kabupaten Gowa.
Batu Pallantikang
Batu Petantikan Raja atau Batu Pallantikang merupakan peninggalan kerajaan Gowa yang masih bisa kita lihat hingga saat ini. Konon Batu Pallantikang merupakan tempat pengambilan sumpah para Raja yang memerintah Kerajaan Gowa-Tallo.
Batuan ini terdiri dari dua jenis batuan yaitu satu batuan andesit dan dua batuan kapur. Andesit merupakan batu yang sering digunakan dalam ritual oleh penganut animisme. Masyarakat yang hidup pada masa itu juga mempercayai bahwa batu ini merupakan batu suci dari surga.
Benteng Somba Opu
Benteng Somba Opu merupakan benteng peninggalan Kesultanan Gowa. Benteng Somba Opu terletak di Jalan Daeng Tata, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Dahulu Benteng Somba Opu merupakan pusat perdagangan sebelum dikuasai penjajah VOC pada tahun 1669 dan ditemukan kembali pada tahun 1980 setelah sebelumnya terendam air laut.
Benteng Tallo
Peninggalan kerajaan Gowa-Tallo selanjutnya adalah benteng Tallo. Benteng yang memiliki luas sekitar 2 kilometer ini diperkirakan memiliki tebal tembok mencapai 260 cm. Meski bangunannya sudah tidak berbentuk lagi, masyarakat sendiri masih bisa melihat sisa-sisa reruntuhan batu yang berserakan di kawasan tersebut.
Masyarakat sendiri sering memanfaatkan batu-batuan tersebut untuk beberapa keperluan. Sedangkan sisanya masih bisa kita lihat berupa pondasi yang mengelilingi makam raja-raja Tallo.
Demikian ulasan artikel tentang Apa Saja Peninggalan Kerajaan Gowa Tallo seperti yang dilansir bandar togel. Semoga bermanfaat.
