6 MACAM BENTUK RUQYAH - Ruqyah Di Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan

6 MACAM BENTUK RUQYAH

6 MACAM BENTUK RUQYAH

RUQYAH CIREBON-Dalam melakukan praktek pengobatan dengan ruqyah, hendaknya seseorang senantiasa berpegang kepada petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga dapat terhindar dari praktek-praktek ruqyah yang tidak sesuai dengan sunnah Nabi, dan bahkan terdapat unsur penyerupaan (tasyabbuh) dengan dunia klenik dan perdukunan.

Dalam tulisan kali ini, kami akan membahas beberapa macam bentuk ruqyah bedasarkan hukumnya masing-masing.

A. BEBERAPA BENTUK RUQYAH

1. Ruqyah Dengan Doa

Dari Abdul Aziz ia,'' Aku bersama tsabit pernah menemui anasbin malik, Tsabit berkata,'Wahai Abu Hamzah Aku merasakan sakit.' Ana Berkata,'Maukah aku ruqyah kamu dengan Rasulullah. 'Dia berkata, 'Ya tentu. 'Dia membaca

اللّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ اَذْهِبِ الْبَأْسَ اشْفِ أَنْتَ الشَّافيِ لا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَماً

Allahumma Robbannas, Adz-hibil ba’sa isyfi antasy-syafi la syifa’a illa syifa’uka syifa’an la yughadiru saqoman.
(Ya Allah Tuhan dari semua manusia, hilangkan segala penyakit, sembuhkanlah, hanya Engkau yang dapat menyembuhkan, tiada kesembuhan kecuali dari padaMu, sembuh yang tidak dihinggapi penyakit lagi). (HR. Bukhari, Muslim).

2. Ruqyah Dengan Basmalah dan Isti'adzah Sambil Meletakkan Tangan Pada Bagian Yang Sakit

Dari Utsman bin Abi al-'Ash, bahwa dia mengadukan sebuah rasa sakit yang di rasakan pada tubuhnya semenjak dia masuk islam kepada Rasulullah, maka Rasulullah bersabda:

''Letakkanlah tanganmu di atas tempat yang sakit dari tubuhmu, lalu beliau ajarkan doa di atas.'' (HR. Muslim 5867 dan Ibnu Hibban 2964).

Setelah itu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita beberapa doa dan ruqyah yang bisa kita baca ketika sakit. Diantaranya:

  • Baca bismillah 3 kali
  • Lanjutkan dengan membaca doa berikut 7 kali, (Auudzu bi izzatillahi wa qudratihi min syarri maa ajidu wa uhaadziru) Aku berlindung dengan keperkasaan Allah dan kekuasaan-Nya, dari kejelekan yang aku rasakan dan yang aku khawatirkan.
Ibnu Abdil Barr berkata, 'Di dalam hadits ini terkandung dalil yang jelas bahwa sifat-sifat Allah bukan makhluk, karena isti'adzah ( memohon perlindungan ) tidak boleh dengan makhluk, dan ruqyah dapat menolak bala, serta Allah menghilangkan dengannya. Ia merupakan pengobatan penyakit yang paling ampuh bagi siapa saja yang di sertai keyakinan yang benar dan taufik yang tegas, tiada yang memberiku taufik kecuali Allah, kepadanya aku bertawakal, dan Dia-lah Rabb Arasy yang agung.''

3. Ruqyah Dengan Doa Sambil Mengusap Dengan Tangan Kanan

Dari Aisyah, bahwa Nabi memohonkan perlindungan bagi sebagian keluarganya, mengusap (tempat yang sakit) dengan tangan kanannya dan membaca,

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ وَاشْفِهُ وأَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَآءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا

''Ya Allah, Dzat yang dipertuhankan manusia, semoga Engkau berkenan menghilangkan kesusahan dan menganugrahkahkan kesembuhan pada ia yang sedang dicoba sakit, karena Engkau adalah Dzat Yang Maha Menyembuhkan.'' (Muttafaq 'alaih).

4. Meniup Nafats Di Kedua Tangan Sambil Membaca Mu'awwidzat

Dari Aisyah, ''Bahwa Rasulullah jika merasakan sakit beliau membacakan dirinya mu'awwidzat (al-ikhlas, al-falaq, dan an-naas) dan meniup, manakala sakit beliau telah parah, aku membacakan untuk beliau serta mengusapnya dengan tangan beliau sendiri, demi mengharap berkahnya.'' (Muttafaq 'alaih).
Dan dalam riwayat Muslim, ''Apabila salah satu dari keluarganya sakit, Rasulullah meniupnya dengan mu'awwidzat.'
Ibnu abdil Barr berkata, ''Di dalamnya terdapat ruqyah serta bantahan terhadap orang-orang yang mengingkarinya dari kalangan pemeluk Islam. Di dalamnya juga terdapat penjelasan tentang ruqyah dengan menggunakan Al-Qur'an. Semakna dengannya, setiap berdzikir (pujian) untuk Allah, boleh di gunakan untuk ruqyah. Di dalamnya terdapat pembolehan meniup (nafast) dalam melakukan ruqyah dan bertabarruk dengannya. Nafast mirip dengan sedikit berludah, tetapi tanpa mengeluarkan (air) ludah sedikit pun. 
Ada juga yang mengatakan, seperti meniupnya orang yang makan kismis, tanpa liur. Dan di dalamnya terdapat penjelasan tentang mengusap dengan tanganketika meruqyah. Semakna dengannya, mengusapkan tangan pada sesuatu yang di harapkan keberkahan,kesembuhan, dan kebaikannya.

Dari Aisyah, ''Bahwa Nabi jika beranjak ke tempat tidurnya setia malam, beliau menyatukan kedua tangannya kemudian meniup di keduanya seraya membaca padanya (surat) Qul huwallahu ahadQul A'udzu bi robbil falaq, dan Qul A'udzu bi Robbinnas, lalu mengusapkan keduanya pada bagian tubuh yang dapat dijangkau, mulai dari kepala,wajah dan kebagian tubuh selanjutnya. Beliau melakukannya tiga kali.''

Aisyah berkata, ''Manakala beliau sakit, beliau menyuruh ku untuk melakukannya.''
Yunus berkata, ''Aku melihat Ibnu Syihab melakukan itu jika beranjak ke tempat tidurnya.''

5. Ruqyah Dengan Al-Fatihah Dengan Mengumpulkan Air Liur Dan Meludahkannya

a. Di riwayatkan oleh Abu Dawud, no 3420,3896,3897, dan 3901, an-Nasa'i dalam amal al yaum wa al-Lailah, no.1032, Ahmad dalam al-musnad,5/211, dan lainnya, dari Kharijah bin ash-Shalt, dari pamannya, bahwa ia pernah lewat di sebuah kaum, maka mereka mendatanginya, mereka mengatakan, ''Sesungguhnya kamu datang dari sisi Rasulullah, maka ruqyahkan laki-laki ini untuk kami, ''Lalu mereka membawakannya seorang laki-laki idiot dengan di belenggu dalam riwayat yang lain, gila di rantai dengan besi, maka dia meruqyahnya dengan Ummul Qur'an selama tiga hari, pagi dan sore, setiap kali ia menyelesaikannya, ia mengumpulkan air liurnya kemudian meludah, maka seolah-olah ia di lepas dari kekang, maka mereka memberinya sesuatu. Ia pun datang kepada Nabi lalu menceritakan kepada beliau, beliau bersabda:

''Makanlah. Sungguh di antara manusia ada yang makan dengan ruqyah bathil, sungguh kamu telah makan dengan ruqyah haq.'' (Isnadnya shahih).

Paman Kharijah adalah Alaqah bin shuhar at-Tamimi as-Salithi, dan ada yang mengatakan, al-Burjumi. Dia seorang sahabat, memiliki riwayat dari rasulullah.
Kharijjah bin ash-shalt, di katakan oleh al-hafizh dalam at-Tahdzib,3/66.
''Ia meriwayatkan dari pamannya, ia (pamannya) seorang sahabat dan tentang namanya di perselisihkan. Ibnu Abi Khaitsamah berkata, 'Jika asy-Sya'bi meriwayatkan dari seorang dan menyebutkan namanya, maka ia dalah tsiqah, hadistnya dapat di jadikan hujjah.' Dan perawi yang meriwayatkan dari Kharijah dalam hadits ini adalah asy-Sya'bi.''

b. Dari Abu Sa'id al-kudri, ia berkata, ''Beberapa orang dari sahabat Nabi pergi dalam sebuah perjalanan, hingga mereka sampai di sebuah kampung dari perkampungan Arab, lalu mereka (para sahabat) meminta bertamu kepada mereka (penduduk kampung) namun mereka enggan untuk menerima mereka (para sahabat), lalu mereka berusaha mengobatinya dengan segala sesuatu, tetapi tidak satu pun yang dapat menyembuhkannya, Sebagian mereka berkata,'Seandainya kalian datang ke orang-orang yang singgah itu.'Mereka pun datang kepada sahabat seraya berkata, 'Wahai kaum, sesungguhnya kepala kampung kami di sengat, dan kami telah mengusahakan segala sesuatu namun tidak memberinya manfaat, apakah ada di antara kalian yang memiliki sesuatu? 'Sebagian sahabat berkata, 'Ya, demi Allah, sungguh aku bisa meruqyah. Tetapi, demi Allah, kami telah minta bertamu kepada kalian namun kalian tidak terima, maka aku tidak akan meruqyah kalian hingga kalian memberikan segerombolan kambing. Kemudian ia pergi (menemui kepala kampung tersebut), dia meludah sedikit padanya dan membaca (Surat) al-hamdulilahi Rabbil Alamin,, maka seolah-olah ia lepas dari kekang, maka ia pun bangkit, berjalan, dan tidak ada penyakit padanya. Lalu mereka memberikan upah kepada para sahabat sesuai dengan yang telah mereka sepakati sebagian mereka berkata, 'Bagilah ia.Laki-laki yang meruqyah itu berkata, 'Jangan kalian lakukan hingga kita mendatangi Nabi dan menceritakan apa yang terjadi, sehingga kita melihat apa yang akan beliau perintahkan kepada kita.' Kemudian mereka mendatangi Rasulullah dan menceritaknnya.

Beliau bersabda:

''Siapakah yang memberitahukannmu bahwa ia adalah ruqyah?'Kemudian beliau bersabda, 'Kalian benar, bagilah, dan berikan untukku bagian bersama kalian.' Maka Nabi tertawa.'' (Muttfaq 'alaih).
6. Membaca Al-Qur'an Pada Air Atau Menuliskannya Pada Sesuatu dan Diletakkan Di Air Kemudian Meminumnya Atau Mandi Dengannya.

Di tanyakan kepada Malik, ''Apakah Al-Qur'an boleh di tuliskan bagi orang yang demam?''
Dia berkata, Tidak apa-apa, dan tidak mengapa meruqyah dengan al-kalam ath thayyib?''

Abu Dawud berkata, ''Aku mendengar Ahmad di tanya tentang seorang yang menulis Al-Qur'an pada sesuatu kemudian mencuci dan meminumnya? Dia berkata, 'Saya berharap, semoga tidak apa-apa'.''
Dia juga berkata, 'Aku mendengar Ahmad di tanya, ia menulisnya pada sesuatu kemudian membasuh dan mandi dengannya? Dia berkata,''Aku belum mendengar sesuatu tentangnya'.''

Shalil berkata, ''Aku pernah sakit, lalu bapakku (Ahmad) mengambil sebuah bejana berisi air dan membacakan ruqyah padanya, lalu berkata, 'Minumlah dan basuh muka dan kedua tanganmu dengannya'.''

Abdulah bin Ahmad berkata, ''Aku melihat bapakku menulis bacaan-bacaan perlindungan kepada Allah bagi orang yang sakit botak dan demam bagi keluarga dan kerabatnya, serta menuliskan untuk perempuan yang sulit melahirkan pada cangkir atau sesuatu yang lembut dan menulis hadits Ibnu Abbas, hanya saja dia melakukan itu seteklah terjadinya penyakit, dan aku belum pernah melihatnya melakukan ini sebelum terjadinya penyakit. Serta aku pernah melihatnya membacakan doa-doa perlindungan kepada Allah di air lalu dia meminumkan kepada orang yang sakit serta di tuangkan di atas kepalanya.

Yusuf bin Musa berkata, ''Abu Abdullah pernah di bawakan wadah, sedang kami di masjid, maka dia membacakan doa-doa perlindungan padanya.''

Al-Qadhi Iyadh berkata, ''Boleh bertabbaruk dengan basuhan dzikir dan Asma'ul husna yang di tulis.''

Ibnul Qayyim berkata, ''Sebagian berpendapat bolehnya menulis ayat-ayat al-Qur'an kemudian di minum. yang seperti itu di sebutkan dari Mujahid dan Abu Qilabah.''

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, ''Jika al-Qur'an atau dzikir di tulis di bejana atau papan lalu di hapus dengan air atau lainnya kemudian di minum, maka tidak apa-apa, hal ini telah di sebutkan oleh Ahmad dan lainnya.''

Ibnul Qayyim berkata, ''Aku tinggal di makkah beberapa lama, aku pernah sakit di sana, sedangkan dokter dan obat tidak ada, maka aku pun berobat dengan Al-fatihah, ku ambil tidak ada, maka aku pun berobat dengan al-fatihah, ku ambil seteguk air zam-zam lalu membacakannya padanya beberapa kali, kemudian meminumnya, dan aku bertumpu kepadanya pada banyak penyakit, dan aku mendapat puncak manfaat.



Penulis : Dedi Natadiningrat
Telp: 083120122062



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "6 MACAM BENTUK RUQYAH"

close
Banner iklan disini