RUQYAH DI ZAMAN NABI, ADAKAH? - Ruqyah Di Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan
Ruqyah di Cirebon

RUQYAH DI ZAMAN NABI, ADAKAH?

RUQYAH DI ZAMAN NABI ADAKAH


Ada banyak metode pengobatan yang dilakukan umat Islam, salah satunya adalah metode ruqyah. Adapun terapi ruqyah itu sendiri merupakan sebuah metode pengobatan yang menggunakan dari ayat-ayat suci Al-Qur’an dan doa atau bacaan khusus pada pasien terapi itu sendiri. Tapi sebenarnya ada juga ruqyah non syar’i lainnya yang dilakukan dengan menggunakan doa dan mantra, hanya saja dilakukan oleh non muslim dan tak dianjurkan untuk umat Islam, mengingat sudah ada ruqyah syar’i yang lebih utama dan jelas syar’inya.

Ada banyak variasi metode ruqyah syar’i, atau disebut juga sebagai ruqyah syar’iyyah. Sekalipun ada banyak metode variasinya, namun ruqyah syar’i harus tetap berdasarkan pada hadits Nabi Shallalahu’alaihi wa sallam yang sudah jelas shahihnya.

Dari mana istilah ruqyah Syar’iyyah ini berasal? Sejarah menjelaskan bahwa istilah ini dirujuk pada sebuah kitab At Thib an Nabawi, yang merupakan karya dari Ibnu Qayyim al Jauziyah. Dimana kitab tersebut yang paling populer di kalangan praktisi pengobatan ala Rasulullah. Adapun isi dari kitab itu merupakan gabungan dari hadits dan atsar yang berhubungan dengan berbagai cara Nabi Shallalahu’alaihi wa sallam saat melakukan pengobatan dan ditambah dengan berbagai metode pengobatan di masa Ibnu Qayyim yang populer.

Ada banyak sekali hadits yang berhubungan dengan ruqyah, dan tentang ruqyah ini juga dicantumkan di dalam Shahih al Bukhari dan Shahih Muslim, juga di dalam kitab hadis lainnya, berdasarkan pada berbagai jalur riwayat. Nah, berbagai hadits ruqyah dari zaman Nabi ini pun dinilai sebagai hadits yang shahih, serta bisa diamalkan. Juga banyak sahabat yang telah meriwayatkan bahwa ruqyah merupakan sebuah aktivitas pengobatan yang banyak digunakan saat dahulu kala, melalui hadits-hadits yang banyak kita temukan sekarang.

BACA JUGA: AYAT-AYAT AL-QUR'AN YANG SERING DI GUNAKAN DALAM RUQYAH

Cara Mendeteksi Gangguan Jin dalam Tubuh Kita

Sebelum memutuskan untuk melakukan pengobatan dengan menggunakan metode ruqyah, pastikan terlebih dahulu bahwa kita memang terdiagnosis diganggu oleh jin. Ada beberapa ciri yang bisa diperhatikan untuk mengetahui apakah tubuh terkena gangguan jin atau mata jahat (‘ain).

Ciri-ciri mata hasad atau ‘ain


  • Kondisi yang benar-benar sehat tiba-tiba jatuh sakit mendadak
  • Kulit tiba-tiba penuh bintik, kemudian hilang lagi dengan cepat
  • Pelupa dan merasa minder
  • Terasa berat di belakang kepala, dahi dan juga pada pundak
  • Berbagai usahanya selalu gagal
Ciri-ciri gangguan sihir

  • Tak bisa berkonsentrasi dengan baik
  • Bagian tubuh (otot) melakukan gerakan-gerakan aneh yang tak bisa di kendalikan
  • Ujung tangan dan kaki gemetar
  • Tak suka mendengarkan adzan dan tak suka bacaan Al-Qur’an
  • Malas untuk beribadah
  • Muncul rasa sakit yang hilang timbul pada siku dan juga kaki
  • Terasa sakit kepala
Sejarah Ruqyah Syar’i Sejak Zaman Nabi

Kita sering mendengar keberhasilan metode ruqyah yang luar biasa, dengan sangat menakjubkan hasilnya. Sebagai masyarakat modern yang notabene kurang mempercayai hal-hal ganjil, pasti ada pertanyaan apakah ruqyah seheboh itu?

Jika dilihat dalam makna bahasanya, kara ruqyah itu sendiri memiliki arti al ‘audzah, yang arti bahasa Indonesianya adalah doa perlindungan. Sebanarnya jauh sekali sebelum masa Islam datang dan berjaya, sudah ada tradisi ruqyah yang sudah berkembang di Arab. Hanya saja masih menggunakan mantra-mantra dan doa yang jauh dari Islam dan kemudian saat Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam hadir, dilakukan beberapa perubahan dalam tradisi ruqyah jahilliyah, dengan berlandaskan syariat Islam dan menghindari praktik perdukunan yang jauh dari nilai-nilai Islam.

Bahkan dalam beberapa hadits disebutkan bahwa Nabi memperkenankan umatnya untuk melakukan ruqyah, asalkan tidak ada kesyirikan di dalamnya. Hal itu menunjukkan bahwa ruqyah sudah ada sejak zaman nabi.

Karena sangat sedikit masyarakat muslim yang memahami beda antara praktek perdukunan dengan terapi ruqyah syar’i, maka perlu dilakukan edukasi yang menyeluruh mengenai perbedaan antara keduanya. Mengingat perdukunan di era modern sekarang pun banyak yang menggunakan bahasa Arab, bagi masyarakat awam sering dianggap bacaan ayat suci atau doa yang sesuai syariat, padahal hanya doa atau mantra syirik yang dialih bahasakan.

Maka karena itu, setidaknya kita harus mengetahui ayat-ayat khusus yang biasa digunakan untuk melakukan terapi ruqyah. Misalnya saja Ayat Kursi, 3 Qul atau Al Ikhlas, An Nas, dan juga Al Falaq. Juga ada Al Kafirun dan juga ayat 1 hingga 9 surat Yasin.

Yang membuat terapi ruqyah non syar’i alias perdukunan makin jelas terlihat adalah selalu ada benda keramat seperti keris dan batu atau jimat sebagai metode penyembuhan. Selain itu juga ada syarat-syarat khusus yang tak masuk akal untuk melancarkan pengobatan. Padahal di dalam ruqyah syar’i, metode yang digunakan hanya dengan menggunakan air (untuk diminum) dan juga menggunakan daun bidara dan minyak zaitun.

Ruqyah tak hanya bisa dilakukan untuk mengobati gangguan jin, mengobati penyakit ‘ain dan juga mengobati sihir, namun juga boleh digunakan untuk mengobati sengatan kalajengking, ular dan binatang beracun lain. Namun hal ini berlaku untuk mengembalikan kesadaran si pasien karena terkena bisa. Mengingat zaman dahulu belum ada pengobatan untuk sengatan binatang beracun seperti saat modern ini.

Macam-Macam Doa yang Digunakan

Selain yang telah disebutkan di atas, ada banyak doa yang bisa digunakan untuk terapi ruqyah yang kebanyakan adalah potongan dari ayat suci Al-Qur’an. Namun ada juga riwayat hadits yang telah tercatat oleh para ulama mengenai ruqyah, dimana kisahnya tentang doa-doa yang dibaca oleh NabiShallalahu’alaihi wa sallam saat beliau menjenguk orang sakit. Misalnya saja doa Allahumma adzhibil ba’sa, isyfi anta asy syafi, syifa’an la yughadiru saqama, atau juga doa A’udzu bikalimatillahit tammah min syarri ma khalaq serta masih banyak lainnya.

Bacaan tersebut bervariasi, ada macam-macam doa, berbagai dzikir dan juga ayat Al Qur’an misalnya Al Fatihah dan al-mu’awwidzatain atau 3 Qul.

Ruqyah bisa dilakukan secara mandiri, seperti yang dilakukan Rasulullah sebelum beliau tidur. Beliau akan membaca doa dan Al Ikhlas, juga al-mu’awwidzatain. Bahkan di penghujung usia beliau yakni saat beliau sedang sakit menjelang wafat, beliau berbaring di atas pangkuan Aisyah dan kemudian Nabi membaca semua surat-surat tadi, kemudian Aisyah pun mengusapkan tangannya ke badan Rasulullah.

Dimana menemukan tempat ruqyah yang sesuai syariat Islam? Ruqyah Cirebon, Gerbang Permai Pamengkang, blok i7, kecamatan Mundu, kabupaten Cirebon. Untuk membuat jadwal ruqyah, atau jika ingin berkonsultasi terlebih dahulu bisa menghubungi 083120122062. Selain itu juga bisa mengunjungi situs websitenya di www.ruqyahcirebon.com untuk informasi lebih lengkap mengenai tempat ruqyah yang satu ini.

Subscribe to receive free email updates: