Siti Khadijah, Cinta Sejati Rasulullah yang Dinantikan Surga
Ilustrasi Siti Khadijah | Foto : Media Cirebon 

Ruqyah Cirebon – Ada banyak sekali kisah Rasulullah yang bisa dijadikan hikmah oleh kita. Bukan hanya tentang ketaatannya saja, tapi juga tentang bagaimana bersikap terhadap orangtua, istri, anak dan sesama umat.

Sejak hadirnya islam, perempuan tidak dipandang sebelah mata lagi. Justru aturan-aturan islam sudah membuat hak dan kewajiban dari seorang perempuan tertata dengan baik.

Bahkan, dalam sebuah hadits dijelaskan tentang empat orang perempuan yang dijanjikan surga. Keempat perempuan tersebut adalah Fatimah Bintu Rasulullah, Maryam Bintu Imran, Khadijah Bintu Khuwalid dan Asiyah.  

Keempat perempuan di atas memiliki kisah keteladanan yang bisa diambil banyak hikmahnya. Salah satu kisah teladan yang akan dibahas adalah kisah Siti Khadijah. Beliau merupakan istri pertama Rasullullah yang dengan setia mendampingi dakwahnya.

Poin-Poin Penting Kisah Teladan Siti Khadijah

Kelahiran Siti Khadijah

Khadijah merupakan perempuan yang lahir di tengah-tengah keluarga Khuwalid. Sekitar tahun 68 sebelum hijrah atau tahun 555 masehi.

Khadijah tumbuh menjadi seorang perempuan yang sangat cerdas dan mulia. Hal tersebut dikarenakan ayahnya, memberikan pendidikan yang baik untuk putrinya. Khuwalid sendiri berasal dari kalangan Quraisy.

Pada saat kelahiran Siti Khadijah, Khuwalid tidak mengubur bayinya seperti kebiasaan suku tersebut. Beliau justru merawat Khadijah sebaik mungkin.

Sehingga menjadikannya sebagai perempuan yang cerdas, pintar, beretika, memiliki keyakinan kuat dan bisa meneruskan usaha dagangnya.

Julukan

Khadijah digambarkan sebagai seorang perempuan yang memiliki karakter mulia dan tegas. Hal ini membuat kaum Quraisy memberikan julukan At-Taahirah, artinya yang mampu menjaga kesucian.

Segala bentuk kelebihan Khadijah, menjadikannya diinginkan oleh banyak pemuka Quraisy untuk dijadikan istri dari putranya.

Tidak Menyembah Berhala

Siti Khadijah adalah sosok perempuan yang memang sukses, kaya raya, rendah hati dan dermawan. Sehingga, selalu menjadi inspirasi bagi kaum Quraisy. Meskipun begitu, Khadijah tidak menyembah berhala.

Hal tersebut diketahui, ketika ada sebuah festival yang diadakan oleh Quraisy di sekitar kakbah. Dalam festival itu, para perempuan menyembah berhala yang bernama hubal. Berhala tersebut dianggap sebagai dewa ramalan.

Di tengah acara, ada orangtua yang menyeru kepada seluruh peserta, bahwa akan hadir seorang utusan Tuhan di Quraisy. Para peserta malah melempari orangtua tersebut.

Sementara Khadijah, tetap terlihat tenang, bijak dan mempertimbangkan segala perkataan dari orangtua tersebut. Momen tersebut menjadikan sebuah takdir, bahwa kelak Khadijah akan memeluk Islam dan meyakini wahyu Allah SWT.

Pernikahan Pertama

Sebelum menikah dengan Rasulullah, Siti Khadijah pernah menikah dengan seorang pria. Seorang pria yang dimaksud memiliki nama Abu Halah bin Zurarah At-tamimi. Selang beberapa lama, Khadijah kehilangan suaminya.

Sang suami meninggalkan dua orang anak dan harta benda yang sangat melimpah. Dari peninggalan ayah dan suaminya, Khadijah terus mengembangkan bisnis dengan penuh kebaikan dan kejujuran.

Pernikahan Khadijah dan Rasulullah

Sifat mulia dan kejujuran nabi Muhammad SAW terdengar oleh Khadijah. Mendengar tentang pemuda tersebut, Khadijah mengutus asisten untuk datang kepada nabi Muhammad SAW.

Ternyata, nabi Muhammad pun bersedia bekerja sebagai pedagang di tempat Khadijah. Dari situlah, Khadijah mulai mengetahui dan yakin terhadap sikap jujur dan mulianya Muhammad.

Lambat laun, Siti Khadijah mulai memiliki rasa tertarik kepada Nabi Muhammad untuk bisa mengenal lebih dekat. Ketertarikan tersebut disampaikan kepada asistennya bernama Nafsiah Binti Muniyah.

Nafisah menjadi perantara dan mendatangi Nabi Muhammad. Setelah kedatangan Nafisah, Nabi Muhammad pun mengajukan pinangan untuk Khadijah melalui walinya, yaitu Amr Bin Asad.

Dari pernikahannya tersebut, keduanya dikaruniai 6 orang anak, dengan 2 orang putra dan 4 putri. Kedua putra yang bernama Qasim dan Abdullah meninggal di usia yang masih kecil. Sementara 4 putrinya bernama Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum dan Siti Fatimah.

Kesetian Khadijah

Ketika pernikahan tersebut, Khadijah sudah berusia 40 tahun dan Nabi Muhammad berusia 25 tahun. Perbedaan usia dan ekonomi tidak membuat Khadijah merasa lebih unggul dari suaminya. Justru, Khadijah menjadi istri setia mendampingi Rasulullah dalam berdakwah.

Baik harta, benda, waktu dan tenaga pun rela diberikan. Khadijah selalu bersama Rasulullah dalam keadaan suka ataupun duka. Bahkan, beliau sering membela Rasulullah. Segala bentuk kesetiaan dan kemuliaan Khadijah menjadikannya sebagai cinta sejati Rasulullah.

Meminta Sorban Rasulullah Untuk Kain Kafannya

Khadijah yang pada saat itu memiliki banyak kekayaan, jatuh miskin. Hingga tidak memiliki kain kafan untuk kelak membungkus mayatnya jika meninggal. Saat itu,

Khadijah meminta sorban yang kelak akan digunakan sebagai kain kafan. Jika Siti Khadijah wafat. Sorban yang diminta adalah sorban yang sering digunakan untuk menerima wahyu. Namun, ketika Khadijah meninggal, ia menerima sorban yang dikirim oleh malaikat Jibril.

Kisah Sedih Rasulullah

Kesedihan Rasulullah terangkum dalam tahun kesedihan atau biasa disebut dengan amul huzni. Pada saat itu, selain kehilangan pamannya, Abu Thalib, Rasulullah juga kehilangan Khadijah.

Keduanya merupakan pendukung utama Rasulullah ketika pertama kali menerima dan mendapatkan wahyu dari Allah SWT.

Siti Khadijah wafat pada usia 64 tahun, sekitar tahun 619 sebelum masehi. Menjelang wafat, Khadijah masih menegaskan tentang kesetiannya terhadap Rasulullah SAW. Hingga pada akhirnya, Khadijah wafat dipangkuan Rasulullah.

Itulah kisah teladan Siti Khadijah. Semoga informasinya bermanfaat.